"Benarkah Perpustakaan Kini Sepi? Intip Wajah Baru Perpustakaan Kita"
Rabu, 09 September 2026 ยท Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 2 Sijunjung Plus Keterampilan
Benarkah perpustakaan zaman sekarang sudah kehilangan peminatnya?
Beberapa hari lalu, saya mendengar celotehan seseorang dalam sebuah obrolan santai. Dengan nada yakin, ia berkata, "Perpustakaan zaman sekarang mah sepi, udah gak ada lagi yang mau datang membaca, apalagi meminjam buku. Semua orang kan sudah punya ponsel."
Kalimat itu sederhana, tapi jujur saja, rasanya cukup menohok dan terus membayang di pikiran saya. Benarkah perpustakaan kita kini setragis itu?
Ucapan tersebut seketika melempar ingatan saya pada kenangan masa lalu. Bagi sebagian besar dari kita, perpustakaan dulunya adalah "Google" pada zamannya. Kita rela mengantre di meja kayu demi mendapatkan stempel tanggal pengembalian buku atau rela duduk diatas lantai sambil membaca buku favorit. Suara gesekan kartu katalog di dalam laci, aroma khas kertas tua dari deretan rak buku, hingga desis pelan suara petugas yang mengingatkan kita untuk tidak bising.Sehingga, perpustakaan saat itu bukan sekedar tempat membaca, melainkan pusat peradaban kecil tempat ilmu, mimpi dan interaksi manusia bertemu.
Namun, kalau jujur pada diri sendiri, ucapan orang dalam obrolan santai tadi tidak sepenuhnya salah.
Ketika genggaman ponsel pintar kini bisa menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik, tren memang berubah. Sudut-sudut perpustakaan tidak lagi seriuh dulu oleh deretan orang yang sibuk membolak-balik lembaran kamus atau ensiklopedia fisik. Kalau standar "ramainya perpustakaan" hanya diukur dari banyaknya orang yang meminjam buku, mungkin perpustakaan memang tampak meredup.
Pergeseran Wajah, Bukan Kepunahan
โ The third place is a generic designation for a great variety of public places that host the regular, voluntary, informal, and happily anticipated gatherings of individuals beyond the realms of home and work." _ Ray Oldenburg
Sosiologis Ray Oldenburg mengenalkan konsep third place yaitu ruang publik diluar rumah dan tempat kerja yang berfungsi sebagai wadah interaksi sosial dan pengembangan diri seperti menjadi tempat berdiskusi, latihan sanggar seni atau sekedar menggunakan fasilitas internet yang tersedia. Dan di era digital saat ini, perpustakaan justru bertransformasi peran tersebut. Orang-orang mendatanginya bukan lagi sekedar untuk mencari data pasif, melainkan untuk mencari lingkungan yang kondusif. Jadi saat kita menilai keredupan perpustakaan hanya dari transaksi buku fisik, maka itu sebuah kekeliruan yang logis. Sama halnya seperti menilai fungsi ponsel pintar hanya dari kemampuan telpon dan mengirim pesan SMS. Perpustakaan tidak sidang redup atau bahkan mati, tetapi ia sedang mengalami pergeseran wajah mengikuti zaman.
"Jadi, saat anda melewati sebuah perpustakaan dan melihat halamannya tak lagi dipenuhi antrean peminjam buku, jangan langsung berprasangka bahwa ia telah mati. Tengoklah kedalam. Disana, diantrean meja dan kursi, di susunan buku di atas rak, kebiasaan belajar mereka tidak hilang, mereka hanya menemukan cara baru untuk terus bertumbuh se irama dengan zaman" _Muammar MD
Jangan lupa kirimkan saran dan tanggapannya disini..